Jumat, 21 Agustus 2009

Tiga Fenomena Dalam Ramadhan

Tidak terasa saat ini sudah memasuki bulan Agustus 2009. Di bulan Agustus ini umat Islam kedatangan tamu agung yaitu tibanya bulan Ramadhan. Ada beberapa fenomena yang sering terjadi di bulan Ramadhan, yang mungkin hal ini menggambarkan pemahaman sebagian umat Islam terhadap ajarannya sendiri.

Pertama, mungkin kita sebagai kaum muslim baru mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika datangnya bulan Ramadhan. Selama sebelas bulan penuh kita menjauhi al-Qur’an, menjauhi masjid, menjauhi kebaikan. Sebaliknya, mendekati tempat-tempat kemungkaran, merapat pada kejahatan dan melalaikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tatkala Ramadhan tiba, kita seolah-olah tersentak kaget, siap menyambut puasa dengan mendatangi masjid beramai-ramai. Kita seolah-olah tenggelam dalam kekhusyukan dan kesahduan puasa di bulan Ramadhan, terlihat bersimpuh, merendahkan diri seolah-olah hendak menipu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berkaitan dengan kondisi di atas, timbul pertanyaan, bukankah kita menyadari bahwa Allah pencipta bulan Ramadhan juga pencipta bulan Sya’ban, Syawwal dan bulan-bulan yang lainnya? Bukankah kita telah mengetahui bahwa Allah Maha Melihat perbuatan manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik di bulan Ramadhan maupun bulan-bulan yang lainnya? Lalu mengapa kita baru terlihat sibuk beribadah pada bulan Ramadhan saja?

Kita menyadari, bahwa Allah senantiasa melihat, mengetahui dan mencatat semua amalan atau perbuatan kita, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu marilah kita masing-masing berusaha untuk berbuat baik tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Mudah-mudahan kita senantiasa diberi kekuatan, kesehatan untuk melakukan amal kebaikan.

Kedua, pada malam-malam bulan Ramadhan kita sebagai kaum muslim meramaikannya dengan shalat tarawih berjama’ah, hingga masjid-masjid dan mushalla-mushalla penuh sesak bahkan meluber ke jalan-jalan. Pemandangan ini sungguh sangat menggembirakan, tapi pertanyaannya, kemana kita setelah Ramadhan berakhir?

Padahal shalat tarawih kedudukannya hanyalah sunnah. Sedangkan shalat lima waktu adalah fardhu, yang harus (wajib) dilaksanakan secara berjamaah di masjid (bagi kaum pria yang mampu dan tidak ada halangan). Pemahaman yang keliru sebagaimana yang dipraktekan selama ini nampaknya sudah saatnya kita masing-masing berusaha untuk memperbaikinya. Kita menyadari bahwa amalan yang wajib harus diutamakan daripada amalan sunnah. Menjalankan shalat fardhu berjamaah lebih penting dan lebih utama daripada shalat tarawih berjamaah.

Ketiga, kebiasaan buruk selama puasa adalah memperpanjang tidur di siang hari. Ada sebagian yang meneruskan tidurnya setelah shalat Subuh hingga siang hari dan ada pula yang tidur mulai dari Dzuhur hingga Ashar. Dengan tidur sepanjang itu, di mana kenikmatan menjalankan ibadah puasa? Di mana kita berlatih menahan lapar, merasakan pahit getirnya nasib para fuqara dan masakin?

Lebih ironis lagi jika malam-malam hari Ramadhan dihabiskan untuk begadang dengan melakukan perbuatan yang sia-sia, mendengarkan lagu-lagu lewat radio, menonton televisi hingga larut malam, sementara siang harinya justru dipakai untuk tidur. Lalu di mana makna iman di bulan Ramadhan?

Tidur siang hari memang tidak dilarang, jika dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi jika dilakukan dalam tempo yang sangat panjang, lalu di mana makna puasa? Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memanfaatkan bulan Ramadhan untuk berperang, lalu pastaskah jika kita justru menghabiskannya untuk tidur-tiduran?

(Disarikan dari Majalah Hidayatullah Edisi 05/XXI, Ustadz Abdurrahman Muhammad)

Tidak ada komentar: